Pendahuluan
Dashboard bisa diibaratkan seperti panel indikator di mobil. Dalam satu pandangan, kita bisa tahu apakah mobil berjalan normal, kecepatan saat ini, dan apakah ada masalah. Dashboard dalam sistem atau aplikasi juga memiliki fungsi yang sama: membantu kita memahami kondisi dengan cepat tanpa harus membaca data yang rumit.
Dashboard yang baik akan memudahkan pengambilan keputusan. Sebaliknya, dashboard yang terlalu ramai atau membingungkan justru membuat orang malas melihatnya.
Artikel ini menjelaskan bagaimana membuat dashboard yang baik dengan bahasa sederhana dan contoh sehari-hari.
1. Tentukan Tujuan Dashboard
Sebelum membuat dashboard, tanyakan satu hal penting: dashboard ini mau dipakai untuk apa?
Contoh sehari-hari:
Dashboard keuangan untuk melihat apakah pengeluaran bulan ini masih aman
Dashboard kerja untuk tahu task mana yang sudah selesai dan mana yang tertunda
Jika tujuannya tidak jelas, dashboard akan berisi banyak grafik tetapi tidak membantu apa pun.
2. Tampilkan Informasi yang Benar-Benar Penting
Dashboard bukan tempat menampilkan semua data. Pilih data yang paling penting dan sering dibutuhkan.
Contoh:
Jika Anda ingin tahu kondisi keuangan, cukup tampilkan:
Total pemasukan
Total pengeluaran
Sisa saldo
Anda tidak perlu langsung menampilkan setiap detail transaksi di halaman utama.
3. Susun Informasi dari yang Paling Penting
Informasi utama sebaiknya langsung terlihat saat dashboard dibuka.
Contoh:
Seperti membuka aplikasi ojek online, yang pertama terlihat adalah status driver dan estimasi waktu. Detail lain ada di bawah atau bisa dibuka jika perlu.
Di dashboard kerja, status seperti "On Track", "Terlambat", atau "Selesai" sebaiknya ada di bagian atas.
4. Gunakan Tampilan yang Sederhana
Tampilan dashboard sebaiknya bersih dan tidak ramai. Salah satu kuncinya adalah mengikuti prinsip dasar desain visual.
Contoh:
Warna hijau untuk kondisi aman
Kuning untuk perlu perhatian
Merah untuk masalah
Hindari terlalu banyak warna dan bentuk yang tidak perlu. Semakin sederhana, semakin mudah dipahami.
Prinsip Desain Visual yang Penting
a. Proximity (Kedekatan)
Proximity berarti data yang saling berkaitan sebaiknya diletakkan berdekatan.
Contoh sehari-hari:
Di meja kerja, pulpen biasanya diletakkan dekat buku catatan, bukan di dapur. Karena fungsinya saling berkaitan.
Di dashboard:
Angka total penjualan sebaiknya dekat dengan grafik penjualan
Jumlah task selesai diletakkan dekat dengan total task
Jika data yang berkaitan berjauhan, pengguna akan bingung dan butuh waktu lebih lama untuk memahami.
b. Similarity (Kesamaan)
Data yang memiliki jenis atau fungsi yang sama sebaiknya memiliki tampilan yang serupa.
Contoh:
Semua kartu KPI berbentuk dan berwarna sama
Semua angka ringkasan menggunakan ukuran font yang konsisten
Ini membantu otak mengenali pola tanpa harus membaca satu per satu.
c. Alignment (Kerapian Susunan)
Alignment berarti semua elemen disusun rapi dan sejajar.
Contoh:
Seperti parkiran mobil yang rapi, lebih mudah dilihat dan dicari dibanding parkiran yang berantakan.
Dashboard yang rapi membuat mata pengguna nyaman dan tidak cepat lelah.
d. Hierarchy (Tingkatan Informasi)
Tidak semua informasi sama pentingnya. Informasi paling penting harus paling menonjol.
Contoh:
Angka utama dibuat lebih besar
Judul lebih menonjol dibanding isi
Dengan begitu, pengguna langsung tahu mana yang harus dilihat lebih dulu.
e. Whitespace (Ruang Kosong)
Ruang kosong bukan berarti ruang terbuang. Justru membantu memisahkan informasi.
Contoh:
Seperti paragraf dalam artikel, jika terlalu rapat tanpa spasi, akan sulit dibaca.
Whitespace membantu dashboard terasa lega dan mudah dipahami.
5. Beri Perbandingan agar Angka Mudah Dipahami
Angka tanpa perbandingan sering kali sulit dimengerti.
Contoh:
Pengeluaran bulan ini: 5 juta
Akan lebih jelas jika ditampilkan:
Pengeluaran bulan ini: 5 juta
Target maksimal: 4 juta
Dengan begitu, kita langsung tahu apakah kondisi ini aman atau bermasalah.
6. Interaksi Secukupnya
Fitur seperti filter atau klik detail memang berguna, tapi jangan berlebihan.
Contoh:
Dashboard seharusnya sudah bisa dipahami tanpa harus klik apa pun. Tombol atau filter digunakan hanya jika ingin melihat detail lebih lanjut.
Jika terlalu banyak klik, pengguna akan cepat lelah.
7. Pastikan Data Benar dan Terpercaya
Dashboard yang bagus harus menampilkan data yang benar.
Contoh:
Jika dashboard menunjukkan penjualan hari ini nol, padahal ada transaksi, pengguna akan langsung kehilangan kepercayaan.
Karena itu, penting untuk:
Data selalu diperbarui
Sumber data jelas
Tidak ada perhitungan yang membingungkan
8. Cepat Dibuka dan Mudah Diakses
Dashboard sebaiknya bisa dibuka dengan cepat dan nyaman di berbagai perangkat.
Contoh:
Seperti membuka aplikasi chat, jika terlalu lama loading, orang akan malas membukanya.
Dashboard yang baik responsif dan tidak membuat pengguna menunggu lama.
9. Terus Diperbaiki dari Waktu ke Waktu
Dashboard bukan sesuatu yang dibuat sekali lalu ditinggal.
Contoh:
Awalnya dashboard hanya menampilkan 3 informasi penting. Setelah beberapa bulan, mungkin ada kebutuhan baru dan informasi lama sudah tidak relevan.
Mendengarkan masukan pengguna adalah kunci agar dashboard tetap berguna.
Penutup
Dashboard yang baik itu seperti ringkasan cerita. Singkat, jelas, dan langsung ke inti.
Dengan tujuan yang jelas, tampilan sederhana, dan data yang bisa dipercaya, dashboard akan menjadi alat bantu yang sangat berguna dalam pekerjaan sehari-hari, bukan sekadar hiasan layar.